Di dalam salah satu gedung pencakar langit, seorang pemuda berdiri bersama dua wanita dan seorang anak kecil. Mereka menatap sebuah ruangan yang dipenuhi berbagai macam perangkat teknologi canggih. Tatapan si pemuda tampak terpukau, sementara salah satu wanita di sampingnya terlihat kebingungan melihat benda-benda asing di sekelilingnya.

"Inilah ruang penelitianku. Di tempat ini, diam-diam aku menyelidiki jejak keberadaan ayahku sebelum akhirnya pemerintah menipuku dan memanfaatkanku," ujar Lala dengan suara pelan, matanya menerawang penuh kenangan saat menyentuh salah satu alat yang sudah berdebu.

Lynx melirik sekeliling lalu menggeleng perlahan. "Lala... ruangan ini... bukankah terlalu sempit, dan juga..." ucapnya setengah bergumam, lalu menghentikan kalimatnya. Bukan karena kagum pada teknologi yang mirip film-film fiksi ilmiah dari dunianya, tapi karena ruangan itu sangat berantakan. Tumpukan pakaian, termasuk pakaian dalam, berserakan di sudut ruangan. Di sudut lain, ada timbunan bungkus makanan cepat saji.

"Kau harus tahu, Lynx... hidupku tidak semudah yang kau bayangkan. Aku mengabdikan seluruh waktuku untuk penelitian ini. Bertahun-tahun aku berjuang sendiri mencari keberadaan ayahku. Dan akhirnya, aku tak pernah bisa menemuinya lagi." Lala bicara dengan suara serak, wajahnya menunduk menyembunyikan luka yang belum sembuh.

Lynx dan Jelita hanya bisa diam. Tatapan mereka penuh simpati, imajinasi mereka membayangkan seorang gadis muda yang berusaha mati-matian menemukan ayahnya, namun justru harus kehilangan semuanya. Tidak hanya sang ayah yang telah tiada, bahkan sang kakek yang merupakan satu-satunya keluarga ikut menjadi korban.

Lynx menarik napas dalam-dalam lalu menatap Lala dengan lembut. "Maafkan aku, Lala. Sekarang aku bisa lebih memahami semua upayamu, juga kerinduanmu pada ayahmu."

Lala menggigit bibirnya, berusaha menahan tangis. Tapi ketika ia tak sanggup lagi, ia akhirnya menjatuhkan diri dan menangis dalam posisi berjongkok, membiarkan semua emosinya tumpah.

Jelita buru-buru menghampiri lalu memeluk tubuh Lala dengan erat. Tak lama kemudian, Isha ikut mendekat. Anak itu ikut memeluk Lala sambil menangis pelan. Ia memahami maksud ucapan Lala. Kecerdasannya menangkap bahwa kehilangan itu bukan sekadar kesedihan biasa. Isha sendiri masih menyimpan luka karena kehilangan kedua orang tuanya, yang telah terbunuh secara kejam, meninggalkannya sendirian di dunia ini.

Lynx berdiri diam, membiarkan Lala meluapkan perasaannya. Dalam hatinya, ia merasa bersalah. Ia tidak bermaksud mengguncang emosi Lala, tapi kini semuanya terlanjur.

Setelah beberapa waktu, Lala menghapus air matanya dan berdiri perlahan. Ia teringat pada tujuannya kembali ke tempat ini, untuk mengambil peralatan yang bisa membantunya meneliti celah dimensi.

"Lynx, kita harus kembali sekarang. Dengan alat ini, aku bisa mencari titik-titik celah dimensi. Tapi mungkin nanti kita perlu datang lagi agar aku bisa menganalisis data yang terkumpul dengan komputer." Lala menunjukkan sebuah alat kecil mirip kalkulator dengan antena menjulang. Saat tombol ditekan, layar hologram biru muncul, menandakan alat itu masih aktif.

Ia tersenyum kecil dan bergumam, "Andai aku punya alat secanggih milik pemerintah dan mampu berpindah dimensi sesuka hati, pasti aku bisa mempelajari dan menciptakan sesuatu yang menarik dari dunia kultivasi dengan lebih leluasa. Sayangnya, itu hanya mimpi. Aku tak bisa terus mengandalkanmu untuk bolak-balik antar dunia, apalagi kalau pemerintah mengetahui keberadaanku, aku akan langsung ditangkap."

Lynx tersenyum mendengar perkataan Lala. Di kepalanya mulai terlintas sebuah rencana.

Namun tiba-tiba, sebuah suara tajam menggema dari arah pintu. "Jangan bergerak! Atau aku tembak!"

Lynx menoleh, matanya menyipit. Seorang pemuda berdiri gemetar, tangan memegang senjata yang diarahkan padanya. Lynx lalu menoleh ke Lala dengan tatapan bertanya.

Lala melangkah maju dengan terkejut. "Taro? Apa yang kamu lakukan di sini?" Nadanya bingung, namun terlihat ada secercah kebahagiaan di matanya. Taro adalah teman kampusnya, tinggal di apartemen yang sama, dan sering membawakan makanan saat Lala terlalu sibuk untuk makan.

"Lala! Cepat ke sini! Aku akan lindungi kamu!" teriak Taro, masih menodongkan senjatanya ke Lynx.

"Taro, mereka bukan orang jahat. Mereka temanku," jawab Lala sambil perlahan mendekatinya.

"Benarkah? Aku sempat tak yakin saat melihatmu keluar dari lift. Kupikir aku hanya salah lihat." Suara Taro terdengar waspada. Ia masih belum menurunkan senjatanya. Ia memang pernah mendengar Lala dibawa oleh seseorang dan tidak pernah kembali, begitu juga dengan kakeknya. Karena itulah ia berani menghadapi mereka dengan membawa senjata seadanya. Ia tidak sadar bahwa ada seorang anak kecil bersama mereka.

Namun sebelum sempat berkata lebih jauh, tubuh Taro mendadak terkulai. Ia pingsan dan tergeletak di lantai.

"Lynx, kenapa kamu lakukan itu?! Dia temanku!" Lala membentak dengan nada khawatir.

"Aku hanya membuatnya pingsan. Keberadaan kita tidak boleh diketahui siapa pun. Kalau tidak, dia bisa mendapat masalah besar saat kita tidak di sini," ujar Lynx tenang.

Lala menghela napas. Meski tak menyukai tindakan Lynx, ia mengerti alasannya. Ia adalah buronan pemerintah. Siapa pun yang membantu atau tahu tentangnya bisa terlibat bahaya.

"Tapi... kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja," ujar Lala lirih sambil menatap wajah Taro.

Namun, tiba-tiba tubuh Taro lenyap dari tempatnya. Jelita, Isha, dan Lala panik dan langsung mendekat.

"Kemana dia? Lynx, jangan bilang kamu masukkan dia ke cincin penyimpanan? Makhluk hidup tidak bisa tinggal di dalam sana!" Lala mulai cemas.

Lynx terkekeh kecil. "Menurutmu makhluk hidup bisa dimasukkan ke cincin penyimpanan? Aku hanya memindahkannya ke pusat hiburan terdekat. Begitu dia bangun, dia akan merasa seperti sedang berlibur."

"Secepat itu?" gumam Isha takjub. Ia masih belum paham batasan kemampuan seorang kultivator.

Lynx tidak menjawab. Ia hanya tersenyum namun juga heran saat melihat Lala yang tiba-tiba saja berbalik cepat dan sibuk di depan komputer.

Tak lama, Lala menghampiri Lynx dengan wajah lega. "Aku sudah hapus semua rekaman. Takkan ada yang tahu kita pernah ke sini."

"Bagus, kamu memang hebat" ujar Lynx memuji. "Ayo, kita pergi."

Sebuah portal teleportasi muncul di tengah ruangan. Lynx melangkah masuk. Lala dan Jelita menyusul, namun rasa heran belum hilang dari wajah mereka.

"Jelita, ini portal teleportasi, kan? Tapi... kenapa bukan portal dimensi untuk kita kembali?" bisik Lala sambil menatap sekeliling.

Jelita hanya menggeleng dan ikut masuk.

Begitu tiba di sisi lain portal, mereka disambut udara dingin dan hamparan salju. Lala dan Jelita tertegun, tubuh mereka menggigil dan segera mengendalikan qi spiritual mereka untuk menghangatkan badan. Lynx segera melindungi Isha saat dia  muncul dari portal untuk memastikan agar anak itu tetap hangat.

"Lynx, di mana kita sekarang?" tanya Lala sambil mengusap lengan.

Tiba-tiba ia melihat sebuah bangunan besar tak jauh dari mereka. Matanya membelalak. "Itu... itu markas rahasia milik pemerintah! Gedung tempatku dikurung! Lynx, apa yang terjadi?!"

Lynx tidak menjawab. Ia menyerahkan Isha pada Lala lalu berbisik, "Tunggu sebentar di sini."

Dalam sekejap, Lynx menghilang.

Beberapa menit kemudian, ia kembali. Bangunan besar yang sebelumnya terlihat kini sudah menghilang.

"Lynx, ke mana kamu membawa markas itu? Dan kamu belum menjawabku. Kenapa markas rahasia di kota Huoling bisa berada di tempat ini?"

"Aku memindahkannya ke sini karena aku marah pada cara mereka memperlakukanmu. Tadi, aku juga memindahkan semua penjaga ke kota terdekat. Sepertinya ilmuwan dan pekerja lainnya sudah lebih dulu diungsikan."

Lala dan Jelita masih kebingungan, belum sepenuhnya memahami maksud Lynx.

"Ayo kita kembali. Aku sudah siapkan kejutan untukmu," ucap Lynx sambil melangkah masuk ke dalam portal dimensi yang baru ia buka.

Ia menoleh sebentar dan tersenyum. "Dengan bantuan formasi, aku sudah memindahkan markas itu ke dunia kecil. Kau bisa melanjutkan penelitianmu di sana. Peralatan mereka kulihat masih banyak dan perangkat mereka masih aktif, sistem kelistrikan mereka mandiri."

"Lynx..." Lala tak kuasa menahan haru. Ia melangkah maju dan memeluk Lynx dengan erat. Air matanya jatuh lagi, tapi kali ini bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

"Baguslah dengan begini aku bisa meneliti banyak hal yang bermanfaat untuk kedepannya."

